Aku Cinta Padamu Apa Adanya

Aku Cinta Padamu Apa Adanya

Senin, 04 April 2016

Welcome

Selamat datang di blog saya yang baru ini , di blog saya ini dilarang berkata kasar
Dan Mengomentari Hal - hal yang tidak penting , dan blog ini saya jadikan sebagai 
Tugas yang di berikan oleh Guru Saya , Semoga Blog ini bisa menjadikan Motivasi..

SEKIAN TERIMA KASIH

Sabtu, 02 April 2016

cara shalat yg baik dan di terima oleh allah

Panduan Teks Tata Cara Shalat yang Baik dan Benar Sesuai dengan Sunah Nabi

Berikut ini rangkaian tata cara shalat yang baik dan benar, dilengkapi dan bacaan dan do’a yang sesuai dengan tata cara shalat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Panduan tata cara shalat ini juga dilengkapi dengan panduan video urutan gerakan shalat untuk memudahkan pembaca memahaminya.
Tutorial tata cara shalat ini cocok untuk bagi Anda yang belum bisa shalat, atau bagi Anda yang sudah bisa shalat akan tetapi ingin menyempurnakan gerakan dan bacaan shalat Anda.

1.  Berdiri tegak menghadap kiblat, pandangan ke arah tempat sujud, kemudian lakukan takbiratul ihram.
2.  Angkat kedua tangan sejajar pundak atau telinga, hadapkan telapak tangan ke arah kiblat, dan ucapkan Allahu akbar.
3.  Bersedekap, dengan meletakkan telapak tangan kanan di atas punggung telapak tangan kiri, atau di atas pergelangan atau lengan tangan kiri.
4.  Letakkan tangan di depan dada. Tetap tundukkan pandangan ke arah tempat sujud.
5.  bacalah doa iftitah dengan pelan:
اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِيْ وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ المَشْرِقِ وَالمَغْرِبِ، اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الأَبْيَضُ من الدَّنَسِ، اللَّهُمَّ اغْسِلْني مِنْ خَطَايَايَ بِالثَّلْجِ وَالمَاءِ وَالبَرَدِ
6.  Bacalah ta’awudz dengan pelan:
أعوذ بالله من الشيطان الرجيم
7.  Bacalah Surat Al-fatihah, dan sebelumnya membaca basmalah dengan pelan, dan berhenti di setiap akhir ayat.
8.  Ucapkanlah amiin setelah selesai Al-fatihah, baik jadi imam, makmum, maupun shalat sendiri.
9.  Keraskan bacaan amiin jika anda menjadi makmum.
10. Bacalah surat yang anda hafal.
11. Diam sejenak seusai baca surat.
12. Mulai rukuk dengan mengangkat kedua tangan sejajar pundak atau telinga, ucapkan Allahu akbar sambil bergerak turun.
13. Letakkan telapak tangan di lutut, dengan posisi mencengkeram, jari-jari direnggangkan, dan siku agak dibentangkan.
14. Punggung lurus, kepala lurus dengan punggung, dan lakukan dengan thumakninah.
15. Bacalah doa rukuk setelah anda sempurna rukuk:
سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِ
16. Bangkit, sambil mengucapkan:
سَمِعَ الله لِمَنْ حَمِدَه
17. Disambung dengan bacaan:
رَبَّنَا وَلَكَ الحَمْدُ
dalam posisi sudah berdiri sempurna
18. Dianjurkan untuk memperlama berdiri i’tidal dan bersikap tenang.
19. Durunlah menuju sujud sambil bertakbir:  Allahu akbar dan letakkan tangan sebelum lutut.
20. Sujud dengan bertumpu pada 7 anggota badan: wajah (kening dan hidung), dua telapak tangan, dua lutut, dan dua ujung kaki.
21. Posisi jari tangan dirapatkan menghadap kiblat, telapak tangan sejajar pundak atau sejajar telinga.
22. Tangan membentang ke samping, punggung posisi tengah dan kaki hampir menyiku.
23. Tenang dan bacalah doa sujud:
سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى
24. Bangkit dari sujud sambil membaca takbir: Allahu akbar, kemudian duduk iftirasy.
25. Punggung tegak, letakkan telapak tangan di atas paha atau lutut, posisi jari agak renggang
26.  Baca doa:
رَبِّ اغْفِرْ لِي، رَبِّ اغْفِرْ لِي
27. Kemudian bergerak turun sambil bertakbir. Dan sujudlah sebagaimana cara yang pertama.
28. Bangkit dari sujud, tanpa membaca takbir, lakukanlah duduk istirahat sejenak, dengan Posisi duduk iftirasy.
29. Kemudian berdiri ke rakaat berikutnya dengan bertumpu pada kedua tangan, sambil bertakbir.
30. Berdirilah sempurna dan langsung sedekap.
31. Lakukan seperti yang anda lakukan pada rakaat sebelumnya.
32. Setelah anda mendapatkan dua rakaat, bertakbir kemudian duduk tasyhud awal. duduk iftirasy,
letakkan telapak tangan di atas paha atau lutut, posisi jari agak renggang, acungkan jari telunjuk tangan kanan
33. Baca doa tasyahud awal:
التَّحِيَّاتُ للهِ، وَالصَّلَوَاتُ، وَالطَّيِّبَاتُ، السَّلامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ الله وَبَرَكَاتُهُ، السَّلامُ عَلَيْنَا، وَعَلَى عِبَادِ الله الصَّالِحِينَ، أَشْهَدُ أَنْ لا إلَهَ إلَّا الله، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
34. Dianjurkan untuk ditambah dengan bacaan shalawat:
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إبْرَاهِيمَ، إنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إبْرَاهِيمَ، إنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
35. Bangkit dengan membaca Allahu akbar. Dan setelah sempurna berdiri angkatlah kedua tangan dan bersedekaplah.
36. Setelah di rakaat terakhir, duduknya tanyahud akhir dengan posisi tawarruk. Posisi tangan di atas paha, acungkan telunjuk tangan kanan.
37. Bacalah tasyahud dan shalawat:
التَّحِيَّاتُ للهِ، وَالصَّلَوَاتُ، وَالطَّيِّبَاتُ، السَّلامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ الله وَبَرَكَاتُهُ، السَّلامُ عَلَيْنَا، وَعَلَى عِبَادِ الله الصَّالِحِينَ، أَشْهَدُ أَنْ لا إلَهَ إلَّا الله، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ * اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إبْرَاهِيمَ، إنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إبْرَاهِيمَ، إنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
38. Berdoalah memohon perlindungan dari 4 hal:
اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ القَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ المَحْيَا وَالمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ المَسِيحِ الدَّجَّال
39. Anda boleh berdoa yang lainnya:
اللَّهُمَّ أعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
40. Selanjutnya salam, menoleh ke kanan sampai kelihatan pipi kanan dari belakang dengan mengucapkan:
السَّلامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ
41. Dan salam ke kiri sampai kelihatan pipi kiri dari belakang dengan mengucapkan:
السَّلامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ
42. Baca istighfar dan lanjutkan berdzikir. Semoga Allah menerima ibadah kita
Semoga video panduan gerakan shalat bermanfaat bagi Anda.

Jumat, 01 April 2016

Cara Beribadah Yang Baik

Setiap ibadah yang dilakukan tanpa dasar tuntunan dari Rasulullah maka akan menjadi perkara yang sia-sia
Dua Hal, Bagaimana Cara Kita Beribadah Kepada Allah?
BAGI umat Islam, Ibadah merupakan ketaatan kepada Allah Subhanallahu wa Ta’ala dalam melaksanakan perintah Nya. Di dalamnya mencakup segala apa yang diridhoi Allah, baik itu ucapan atau pun perbuatan, yang dhahir maupun yang batin.
Selain itu, mereka juga meyakini bahwa ibadah merupakan perintah Allah yang menjadi tujuan penciptaan manusia di bumi. Sebagaimana firman Allah Subhanallahu wa Ta’ala :
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.” (QS: al Baqarah: 21)
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
مَا أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ
إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku (saja). Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (QS: Adz Dzariat [51]: 56-58)
Oleh karena itu, ibadah merupakan perkara yang penting dalam kehidupan seorang Muslim. Sehingga segala hal yang berkaitan dengan ibadah akan menjadi hal penting yang harus diperhatikan. Agar ibadah yang dikerjakan tidak menjadi perkara yang sia-sia.
Dalam upaya mengawal setiap ibadah kita agar menjadi amal yang diterima Allah patutlah kita simak perkataan seorang ulama salaf bahwa setiap perbuatan apapun pasti akan ditanya dengan dua pertanyaan, yakni mengapa dan bagaimana. Mengapa kita berbuat dan bagaimana kita berbuat.
Pertama, pertanyaan tentang mengapa kita berbuat
Pertanyaan ini berkaitan dengan alasan dari perbuatan yang kita lakukan. Bila kita kaitkan dengan ibadah kita, pertanyaan ini dimaksudkan untuk mengetahui niat apakah yang melatar belakangi ibadah yang kita lakukan.
Sebagaimana yang sudah kita pahami bersama bahwa niat merupakan salah satu perkara utama dalam ibadah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya.”(HR. Bukhori dan Muslim).
Maksudnya adalah balasan dari setiap amal itu sesuai dengan niatnya.
Karena setiap amal baik itu mengandung penerimaan maka hadits di atas dapat diartikan bahwa diterima atau tidaknya amal itu tergantung pada niatnya.
Imam Bukhari menyebutkan hadits ini di awal kitab shahihnya sebagai mukadimah kitabnya, menyiratkan bahwa setiap amal yang tidak diniatkan karena mengharap Wajah Allah adalah sia-sia, tidak ada hasil sama sekali baik di dunia maupun di akhirat.
Oleh karena itu apabila niat itu benar dan ikhlas karena Allah Subhaanahu wa Ta’aala maka akan sah pula suatu amal dan akan diterima dengan izin Allah Ta’ala. Atau bisa juga maksudnya adalah baiknya suatu amal atau buruknya, diterima atau ditolaknya, mubah atau haramnya tergantung niat.
Begitu pentingnya kedudukan niat itu hingga Yahya bin Abi Katsir mengatakan, “Pelajarilah niat, karena niat lebih penting dari amalan.”
Karena dengan niatlah amalan akan menjadi baik dan perkataan menjadi benar.
Kedua, pertanyaan tentang bagaimana kita berbuat
Dalam kaitannya dengan ibadah, pertanyaan kedua bermaksud untuk mengetahui kadar mutaba’ah kepada Rasulullah di dalam beribadah.
Apakah ibadah tersebut sesuai dengan perintah Allah yang di risalahkan kepada Rasulullah atau merupakan perkara yang mengada-ada.
Rasulullah bersabda:
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ. [ رواه البخاري ومسلم وفي رواية لمسلم] : مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ .
“Siapa yang mengada-ada dalam urusan (agama) kami ini yang bukan (berasal) darinya), maka dia tertolak.” [HR. Riwayat Bukhari dan Muslim].
Dalam riwayat Muslim disebutkan: “Siapa yang melakukan suatu perbuatan (ibadah) yang bukan urusan (agama) kami, maka dia tertolak).”
Dari hadits di atas dapat dipahami bahwa setiap ibadah yang dilakukan tanpa dasar tuntunan dari Rasulullah maka akan menjadi perkara yang sia-sia. Sehingga setiap umat Islam haruslah meneladani Rasulullah dalam setiap amal ibadahnya.
Dari dua pertanyaan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa agar setiap ibadah diterima Allah maka kita harus senantiasa memperhatikan niat kita dalam beribadah. Di samping itu, cara ibadah yang kita lakukan haruslah sesuai dengan tuntunan Rasulullah.
Karena ibadah adalah tujuan keberadaan manusia di bumi, maka akhiratlah yang menjadi tempat bagi pertanggungjawabnya.
Sebagaimana Rasulullah bersabda :
لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ
“Kedua telapak kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat sampai dia ditanya tentang umurnya untuk apa dihabiskan, tentang ilmu, apa yg dia amalkan, tentang hartanya, dari mana dia dapatkan dan pada perkara apa dia infakkan, serta badannya pada perkara apa dia gunakan. (HR. At-Tirmidzi dan beliau katakan, “Hadits hasan sahih.” [Lihat Silsilah ash-Shahihah 2/666).
Sungguh merupakan suatu kebahagiaan manakala kita mengetahui jika ibadah kita diterima Allah Subhanallahu wa Ta’ala.